Kayuh Sepeda Berpuluh Kilometer untuk Berjualan Ketela, Bantu Mbah Tin dan Mbah Suparmin

Tinggal hanya berdua, Mbah Tin dan Mbah Suparmin tetap berjuang mencari nafkah di masa senjanya. Mengayuh sepeda berpuluh-puluh kilometer tetap tidak ada yang mau membeli dagangannya namun mereka tetap bersyukur dan tak pernah mengeluh.

Simpan

Kayuh Sepeda Berpuluh Kilometer untuk Berjualan Ketela, Bantu Mbah Tin dan Mbah Suparmin

Target

0 0

0%
0 Tidak ada waktu lagi
Jadi Duta Kemanusiaan

Kayuh Sepeda Berpuluh Kilometer untuk Berjualan Ketela, Bantu Mbah Tin dan Mbah Suparmin

Update : 14 Apr, 2021


Tinggal hanya berdua, Mbah Tin dan Mbah Suparmin tetap berjuang mencari nafkah di masa senjanya. Di gubuk sempit beralaskan tanah, yang hampir selalu kebanjiran ketika hujan deras, dan genteng yang bocor tempat mereka bernaung. Dengan kondisi seperti itu, mereka berdua tetap bertahan dan tidak ingin meminta-minta apalagi menyusahkan orang lain.

01a435e0d1accd916bd64a9ca17cbdcd.jpg

Mereka berjualan ketela mentah dan ketela yang sudah diolah (gethuk, ketela rambat ditetel, gaplek, tiwul) menggunakan sepeda. Sepeda tua yang tetap dikayuh mulai dari terbitnya fajar hingga menjelang malam. “Sak payune (selakunya)”, kata Mbah Tin. Saat ditanya seberapa jauh lokasi mereka berjualan, mereka mengaku mengayuh sepeda untuk berjualan berpuluh-puluh km setiap harinya.

74c8bed6a25a09ddbf5a02710ce1816a.jpg

Mbah Suparmin sempat jatuh ketika berjualan, menyebabkan Mbah Tin harus berjualan sendiri, tapi sang suami selalu menguatkan diri agar tetap bisa menemani Mbah Tin berjualan. Tidak hanya jatuh ketika berjualan, mbah Suparmin juga menderita penyakit lambung yang menderanya. Dengan tubuh ringkihnya mereka tetap bekerja di usia senjanya, bahkan dengan kondisinya yang sering sakit-sakitan.

Penghasilannya pun tak karuan, apalagi dengan kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk tiap hari berjualan. Jangankan untuk berobat, untuk kebutuhan pribadi saja mereka sangat kekurangan.

Ketika berjualan, 2 sampai 3 gang terkadang tidak ada yang membeli, akhirnya mengayuh sepeda sampai kemana-mana. Pernah sepeda yang dikayuh rusak, akhirnya mereka menuntun sepeda dengan dagangan di atasnya agar tetap bisa berjualan. “Nggeh adus kringet ngonten (ya mandi keringat begitu)”, Mbah Suparmin berkelakar.

Tinggal berdua, 3 anak Mbah Suparmin sudah punya rumah masing-masing, di Mojoroto dan Tanjung Kalang, Kediri. Mereka bekerja sebagai petani, dan hanya beberapa kali menjenguk orang tuanya. Sedangkan 1 anak Mbah Tin, di Bulurejo sebagai satpam, “bayarane gur cukup dingge anak’e, wong anak’e yo uakeh eram (bayarannya hanya cukup untuk menghidupi keluarganya, apalagi anaknya sangat banyak)”. Kadang-kadang Mbah Tin malah menjenguk putranya dan memberikan apa yang dia punya, walau sedikit-sedikit.

b512675ead6f886ccb6f694da1b5be73.jpg

Dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan, Mbah Tin dan Mbah Suparmin tetap bersyukur dan berusaha sekuat tenaga di masa senjanya. Kondisi rumah yang reot juga tetap disyukuri, karena memang tidak ada dana untuk melakukan renovasi.

Sahabat, maukah kamu membantu membangun kembali rumah keluarga senja ini, pendampingan modal usaha, serta alat transportasi untuk memudahkan beliau menjajakan usahanya.

Salurkan Sedekah terbaik Sahabat Dermawan dengan cara:

1. Klik 'Sedekah Sekarang'
2. Masukan nominal Sedekah
3. Pilih Bank Transfer BNI Syariah/Mandiri/BCA/BNI/BRI, Gopay, OVO atau Kartu Kredit
4. Klik 'Sedekah'
5. Dapatkan laporan via email

Silahkan untuk share juga halaman ini agar lebih banyak doa dan sedekah yang terkumpul.

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan