Bantu Modali Usaha Pak Parjan, Lansia Penyadap Nira

Ini kisah Pak Parjan, pria paruh baya penyadap air nira yang harus memanjat pohon kelapa belasan meter dalam keadaan buta total. Wujudkan keinginannya beralih profesi di masa tuanya dengan bersedekah modal usaha!

Simpan

Bantu Modali Usaha Pak Parjan, Lansia Penyadap Nira

Target

0 0

0%
0 93 hari tersisa

Bantu Modali Usaha Pak Parjan, Lansia Penyadap Nira

Update : 09 Aug, 2021


Sahabat, bantu Pak Parjan yuk!

Pak Parjan merupakan seorang petani penderes, atau penyadap air nira asal Desa Kalirejo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo. Lelaki 51 tahun ini tinggal di sebuah rumah sederhana bersama istri dan kedua putrinya. Sejak umur 15 tahun ia telah menjadi petani penderes mengikuti jejak kedua orang tuanya, hingga saat ini ketika tubuhnya tak lagi bugar seperti dahulu.

Pak Parjan mengalami kebutaan total sejak tahun 2002. Awal mulanya, ia merasa ada yang aneh dengan penglihatannya. Ketika diperiksakan ke dokter ternyata ia menderita katarak. Namun Pak Parjan tidak mendapatkan perawatan intensif untuk sakitnya akibat keterbatasan biaya. Lambat laun, penyakit kataraknya semakin parah dan merenggut penglihatannya secara permanen.

20eb86a35c7fb18e927cb01cd08e25b7.jpg

Tak bisa melihat bukan berarti langkah juang Pak Parjan mencari nafkah terhenti begitu saja. Ia tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai penderes nira. Bayangkan, memanjat pohon dalam keadaan buta! Sungguh besar pengorbanan seorang kepala keluarga demi menghidupi keluarga.

Butuh adaptasi cukup lama untuk terbiasa memanjat pohon kelapa dalam keadaan tak bisa melihat, apalagi harus membiasakan diri menuang nira agar tidak tumpah. Apalagi, usianya kini semakin renta. Ia sering merasakan pusing dan sakit pada lututnya. Namun Pak Parjan terus berlatih dan berusaha untuk terbiasa. Tak kurang dari 40 pohon kelapa dipanjatnya setiap hari. Air nira yang telah dikumpulkan Pak Parjan dijadikan gula jawa oleh sang istri.

083f7d0d3044f7654dc5f31f88593fc3.jpg

Padahal, pekerjaan sebagai penyadap air nila ini sangat berisiko tinggi. Ketika memanjat pohon kelapa Pak Parjan tak menggunakan pengaman apapun, dengan ketinggian pohon mencapai belasan meter. Jika cuaca sedang tidak bagus, Pak Parjan harus urung memanjat. Mau tak mau ia harus menjalankan pekerjaan lain seperti mencari rumput atau jadi kuli bangunan.

Sebenarnya pendapatan sebagai deres ini tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga Pak Parjan. Sekitar 36 ribu rupiah yang bisa ia bawa pulang, hanya untuk mengisi perut seharian. Kebutuhan sekolah kedua putrinya semakin tinggi. Tak jarang ia terpaksa berutang ke tengkulak sehingga kini keluarga mereka terlilit utang yang semakin banyak.

eb7def5d25efced3491c1d45d0ea7cff.jpg

Mengingat kondisi fisiknya yang semakin menurun, Pak Parjan hanya berharap dapat berhenti memanjat pohon nira dan menjalankan usaha lain. Namun ia tak memiliki modal untuk memulai usaha lain. Sahabat, maukah kamu menolongnya?

Selain mengirimkan paket sembako untuk keluarga Pak Parjan, insya Allah tim ACT-MRI Kulon Progo akan mendampingi keluarga ini agar bisa memiliki usaha secara mandiri. Dengan demikian, Pak Parjan tak perlu lagi bersusah payah mengundang bahaya memanjat pohon yang tinggi tanpa melihat. Utang-utangnya pun bisa terlunasi. Namun, upaya ini perlu bantuanmu, Sahabat Dermawan. Yuk, bersama-sama kita bantu Pak Parjan lewat laman aksi ini!

Salurkan sedekah terbaikmu dengan cara:

1. Klik Sedekah Sekarang
2. Masukkan nominal sedekah
3. Masukkan informasi pelengkap dan pilih metode transfer seperti BNI Syariah/Mandiri/BCA/BNI/BRI, Gopay atau OVO
4. Selesaikan dengan klik Sedekah
5. Dapatkan laporan sedekah dari email dan atau whatsapp yang kamu cantumkan

Jangan lupa share program sedekah ini agar semakin banyak yang ikut membantu.
Salam hangat!

*dengan bersedekah melalui laman ini, kakak telah menyetujui syarat dan ketentuan yang berlaku 

Tidak ada hasil ditemukan
Sedekah Sekarang