Mari Hadirkan Rumah untuk Mbah Safaat Sang Pejuang Kemerdekaan!

Hidup bertahun-tahun di gubuk kecil bersama istrinya harus dirasakan oleh Mbah Safaat. Ditambah lagi bau tak sedap dari sungai kecil di samping gubuk harus menghiasi hari mereka. Yuk hadirkan rumah layak untuk mereka!

Simpan

Mari Hadirkan Rumah untuk Mbah Safaat Sang Pejuang Kemerdekaan!

Target

0 0

0%
0 57 hari tersisa

Mari Hadirkan Rumah untuk Mbah Safaat Sang Pejuang Kemerdekaan!

Update : 25 Oct, 2021


“Di dalam gubuk ini hanya bisa dipakai tidur satu orang aja mas, jadinya istri yang tak suruh tidur di dalam gubuk, saya yang di luar. Gak tega kalau gantian mas, di luar banyak nyamuknya,” – cerita Mbah Safaat penuh haru.

Mbah Safaat (98) dulunya merupakan eks veteran yang ikut berperang dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Namun siapa sangkah, tetes keringat dan darah yang dulu sering mengucur dari tubuhnya, kini tak dapat merasakan hidup merdeka.



Sudah puluhan tahun, beliau merasakan hidup tertatih-tatih bersama sang istri, Mbah Aminah (81), dalam gubuk kecil berukuran 2x1 meter. Kondisinya sangat tidak layak dan berantakan. Ditambah bau tak sedap dari sisa makanan dan juga bau sungai kecil (got) di samping gubuk, menjadi rentetan derita yang setiap hari mereka rasakan berdua. Namun yang lebih menyedihkannya lagi, beliau masih tetap memanfaatkan sungai kecil tersebut untuk kebutuhan sehari-hari, karena tak ada biaya untuk membeli air.



“Kami mandinya ya di sini mas, BAB juga di sini, minum pun juga sering dari sini. Mau beli air juga ga ada uang mas, kalau ada pun mending dibelikan makanan. Tapi kalau ga ada yang dimakan, ya terpaksa kami minum air aja dari sini buat pengganjal perut,” ungkap Mbah Safaat penuh kesedihan sampai meneteskan air mata.

Mereka berdua bahkan tidak memiliki anak dan keluarga yang bisa dimintai pertolongan. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan makan, Mbah Safaat dan istri harus bekerja berdua mencari barang bekas dengan berjalan puluhan kilo meter, sesekali juga membantu di pasar saat pagi untuk mengangkut sayuran. Jika ditotal per harinya, beliau hanya mendapatkan upah 7 ribu sampai 15 ribu per hari. Namun sejak adanya pandemi dan kondisi Mbah Aminah yang sering sakit-sakitan. Akhirnya kebutuhan makan kini bergantung dari pemberian masyarakat dan tetangga sekitar. Jika tak ada, beliau hanya minum air kali untuk mengganjal perut.



Allah Ta'ala berfirman, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak memberi makan orang miskin.” (QS Al Maun: 1-3)

Melihat kondisi Mbah Safaat dan istrinya yang sangat memprihatinkan, InsyaAllah Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Pasuruan berikhtiar untuk menghadirkan tempat tinggal layak untuk mereka. Yuk kita bantu Mbah Safaat dan Mbah Aminah dengan sedekah terbaik kita. Sehingga mereka bisa merasakan kebahagiaan di masa tuanya. Sudah saatnya kita memberikan hadiah terbaik untuk para pejuang kemerdekaan.

Salurkan sedekah terbaikmu dengan cara:

1. Klik Sedekah Sekarang
2. Masukkan nominal sedekah
3. Masukkan informasi pelengkap dan pilih metode transfer seperti BSI/Mandiri/BCA/BNI/BRI, Gopay atau OVO
4. Selesaikan dengan klik Sedekah
5. Dapatkan laporan sedekah dari email dan atau whatsapp yang kamu cantumkan

Jangan lupa share program sedekah ini agar semakin banyak yang ikut membantu.
Salam hangat!

*dengan bersedekah melalui laman ini, kamu telah menyetujui syarat dan ketentuan yang berlaku 

Tidak ada hasil ditemukan
Sedekah Sekarang