Bantu Yatim Piatu Korban Kapal Tenggelam di Bengawan Solo

Hafidz belum genap berusia 3 tahun ketika ia dan orang tuanya menjadi korban tenggelamnya kapal di Bengawan Solo. Mari bantu ringankan ujiannya dengan sedekah terbaikmu!

Simpan

Bantu Yatim Piatu Korban Kapal Tenggelam di Bengawan Solo

Target

0 0

0%
0 88 hari tersisa

Bantu Yatim Piatu Korban Kapal Tenggelam di Bengawan Solo

Update : 24 Nov, 2021


Kehilangan sosok orang tua adalah hal yang sulit untuk diterima, apalagi jika hal ini harus menimpa seorang anak yang masih sangat kecil. Ia bahkan mungkin belum mengerti dan memahami mengenai peristiwa yang terjadi.

Namun kondisi ini harus dialami oleh Hafidz (2,5 tahun). Balita ini harus kehilangan sosok orang tuanya, di usia yang sebenarnya masih sangat membutuhkan kasih sayang mereka.

Pagi itu, (3/11), pukul 09.30 Hafidz, bersama orang tuanya (Mas Dian dan Mba Erma) menumpang kapal penyeberangan di Bengawan Solo dari arah Desa Ngadirojo, Kecamatan Rengel Tuban menuju Desa Semambung Kecamatan Kanor Bojonegoro.



Tak pernah keluarga kecil ini sangka, bahwa ini akan menjadi perjalanan terakhir bagi mereka. Kapal yang ditumpangi usai membeli bahan untuk membuat kue, terbalik dan tenggelam sebab tidak kuat menahan arus Bengawan Solo yang begitu derasnya.

Berdasarkan keterangan saksi di lapangan, Mas Dian mengangkat Hafidz tinggi-tinggi meski tubuhnya telah tenggelam, ia melempar Hafidz diantara sekumpulan tanaman enceng gondok yang mengapung diatas sungai, kemudian seorang penambang pasir menyelamatkannya.

Alhamdulillah Dik Hafidz selamat setelah berpegangan di antara batang-batang enceng gondong. MasyaAllah.

Kemudian Mas Dian tak lagi terlihat, hingga ditemukan jasadnya beberapa hari kemudian oleh tim SAR Gabungan, diantaranya teman-teman relawan ACT-MRI Bojonegoro yang turut mambantu proses rescue selama lebih dari 7 hari.



Tapi sampai hari ini mbak Erma (ibunda Hafidz) belum ditemukan. Mbak Erma adalah salah satu dari 4 orang korban yang belum ditemukan. 5 orang ditemukan meninggal dan 10 lainnya berhasil selamat.

Saat tim ACT Madiun berkunjung ke rumah dik Hafidz, kami bertemu dengan Bu Ampuni dan Pak Hasanuddin, kakek dan nenek Hafidz. Dalam sekejap mereka kehilangan anak dan menantu kesayangannya. Kini merekalah yang harus merawat Hafidz beserta adiknya yang masih berusia 1,7 tahun.

Padahal Pak Hasanuddin (61 tahun) hanya bekerja sebagai sopir bus mini dari WBL (Wisata Bahari Lamongan). Sedangkan Ibu Am tidak bekerja. Anak keduanya merantau ke Kalimantan sedang anak bungsunya masih menempuh pendidikan tinggi dan membutuhkan banyak biaya.

Di tengah kesulitan ini, Pak Hasanuddin dan Ibu Am hanya berharap Hafidz dan adiknya bisa mendapatkan pendidikan tinggi meski tanpa orang tua. Mereka juga berharap bisa memiliki umur panjang agar bisa merawat dan menemani kakak beradik.



"Aku dan orang yang mengasuh atau memelihara anak yatim akan berada di surga begini, kemudian beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkannya sedikit." (HR. Bukhari, Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad dari Sahl bin Sa’d).

InsyaaAllah, tim Aksi Cepat Tanggap Madiun akan memberikan bantuan biaya hidup kepada korban laka air Bengawan Solo dan bantuan biaya pendidikan untuk Hafidz dan anak-anak korban tenggelamnya kapal di Bengawan Solo, Bojonegoro. Maukah kamu menjadi bagian dari langkah baik ini?

Sahabat, mari ringankan ujian saudara terdampak bencana dengan sedekah terbaik kita. Yuk bersama sampaikan kepedulian terbaik melalui laman aksi ini!

Salurkan sedekah terbaikmu dengan cara:

1. Klik Sedekah Sekarang
2. Masukkan nominal sedekah
3. Masukkan informasi pelengkap dan pilih metode transfer seperti BSI/Mandiri/BCA/BNI/BRI, Gopay atau OVO
4. Selesaikan dengan klik Sedekah
5. Dapatkan laporan sedekah dari email dan atau whatsapp yang kamu cantumkan

Jangan lupa share program sedekah ini agar semakin banyak yang ikut membantu.
Salam hangat!

*dengan bersedekah melalui laman ini, kamu telah menyetujui syarat dan ketentuan yang berlaku 

Tidak ada hasil ditemukan
Tidak ada hasil ditemukan
Sedekah Sekarang